Masjid Al-Makmur Saksi Sejarah Islam di Jakarta



Tidak salah jika baru-baru ini Jakarta ditetapkan sebagaipusat kebudaayaan Islam di Asia berdasarkan kesepakatan pertemuan menteri-menteri pariwisata negara peserta Organisasi Konferensi Islam (OKI). Sebab, selain memiliki masyarakat yang agamis dan menjunjung tinggi toleransi, Jakarta juga memiliki banyak tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi perkembangan kebudayaan dan agama Islam.

Salah satunya, Masjid Al-Makmur yang berlokasi di Jl KH Mas Mansyur, Tanahabang, Jakarta Pusat. Bahkan, walaupun kini masjid itu dikelilingi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara, namun aktivitas keagamaan di masjid yang dibangun pada 1704 oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro ini, tak mau kalah dengan kesibukan di sekitarnya dan tetap aktif mensyiarkan ajaran Islam.

Pengurus Masjid Al-Makmur, Nizar Misbachsanusi, menceritakan sejarah masjid yang cukup tersohor di Jakarta itu terjadi ketika Sultan Agung dua kali menyerang kota Batavia, yaitu pada tahun 1618 dan 1619. Walalupun mengalami kegagalan, namun para bangsawan Mataram merupakan juru dakwah yang handal. Di antara mereka justru tidak kembali ke daerahasalnya, melainkan menetap di Jakarta dengan menjadi dai yang menyebarkan ajaran agama Islam dan membangun sejumlah masjid.
Sebelum megah seperti saat ini, awalnya Masjid Al-Makmur hanyalah sebuah mushala berukuran 12x8 meter persegi. Namun pada tahun 1915, bangunan masjid kemudian diperluas oleh Habib Abu Bakar Alhabsyi, yang merupakan salah seorang pendiri rumahyatim piatu Daarul Aitam yang berlokasi di jalan yang sama.
Luas masjid pun bertambah menjadi 1.142 meter persegi, ketika Habib Abubakar memberikan tanah sebagai wakaf. Kemudian di tahun 1932, bangunan masjid diperluas lagi berkat tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib, yang kemudian terus berkembang pada tahun 1953 dengan diperluas kembali hingga luas masjid yang telah berusia lebih daritiga abad ini menjadi 2.175 meter persegi.
Gaya bangunan masjid ini menyerupai arsitektur masjid di Timur Tengah, namun dengan sentuhan yang cukup modern. Bangunan kubah utamanya berwarna hijau dan terlihat dari segala arah. Kesan klasik juga sangat terasa jika berada didalam masjid itu. Bentuk kusen pintu dan jendela bergaya arsitektur abad 17, menambah kesan mendalam jika masjid tersebut mempunyai nilai historis yang tinggi.
Di dalam lingkungan masjid ini memiliki tiga makam yang dikeramatkan, dan terlihat masih banyak warga yang berziarah ke makam tersebut. Sayangnya, kondisi masjid yang dapat menampung hingga 5.200 jamaah inisangat tidak kontras dengan lingkungan sekitarnya yang tampak kumuh dan semrawut. Banyak pedagang kaki lima yang mangkal di depan masjid dan memakan badan jalan. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya kendaraan yang parkir di lokasi yang sama.
“Perkembangan bisnis di Tanahabang, mengakibatkanJalan KH Mas Mansyur dan sekitarnya seperti Kebon Kacang I sampai Kebon Kacang VI kini sudah berubah fungsi. Bahkan jika tak awas, lokasi masjid bisa luput dari pandangan mata,” jelas Nizar, Sabtu (23/7).
Akibat pengembangan jalan, kini Masjid Al-Makmur hanya menyisakan beranda depan yang merupakan teras atau halaman masjid dengan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak melati dan lisplang dengan lima lubang angin serta dua menara berkubah kecil bergaya mercusuar di sisi kiri dan kanan bangunanutama. Sebenarnya, lokasi masjid tersebut sangat mudah dijangkau dari arah manapun. Namun karena hiruk pikuk aktivitas perniagaan di kawasan tersebut, banyak yang tidak mengetahui sejarah masjid tersebut.
Back To Top